Menjadi remaja selalu tentang pencarian jati diri, persahabatan, dan cinta monyet. Namun, jika kita membandingkan kehidupan remaja tahun 80-90an dengan era sekarang, rasanya seperti membandingkan dua planet yang berbeda. Perbedaan teknologi menciptakan jurang cara berkomunikasi yang sangat kontras. Di era 90-an, privasi adalah kemewahan yang diperjuangkan lewat kabel telepon rumah yang ditarik hingga ke dalam kamar agar percakapan tidak didengar orang tua. Tidak ada pesan singkat yang bisa dihapus; yang ada hanyalah surat cinta di atas kertas wangi yang disimpan rapat di dalam buku harian. Sebaliknya, remaja masa kini hidup dalam transparansi digital, di mana perasaan bisa diungkapkan lewat snap instan atau kode-kode di playlist Spotify, namun sering kali kehilangan debaran menunggu balasan yang memakan waktu berhari-hari.
Cara bersosialisasi pun mengalami pergeseran makna yang drastis. Dahulu, kata "nongkrong" adalah sebuah komitmen fisik yang sakral. Karena tidak ada ponsel untuk membatalkan janji secara mendadak, remaja 90-an akan berdiri tepat waktu di titik pertemuan yang telah disepakati seminggu sebelumnya. Mereka menghabiskan waktu dengan berinteraksi penuh, entah itu bermain gitar di teras rumah atau sekadar berkeliling kota dengan motor bebek. Kini, makna kehadiran fisik sering kali terdistraksi oleh kehadiran virtual. Kita sering menjumpai sekelompok remaja duduk di kafe yang sama, namun mata mereka terpaku pada layar masing-masing. Meski begitu, koneksi digital ini memungkinkan remaja sekarang memiliki jaringan pertemanan yang lebih luas melintasi batas negara melalui komunitas gaming atau hobi di media sosial.
Dunia pendidikan dan kreativitas juga tidak luput dari perubahan ini. Remaja masa lalu adalah "pemburu informasi" yang harus bergelut dengan debu perpustakaan dan menebalnya buku ensiklopedia demi menyelesaikan tugas sekolah. Proses yang lambat ini secara tidak langsung melatih kesabaran dan daya juang yang tinggi. Di sisi lain, remaja era sekarang adalah "pengolah informasi" yang luar biasa cepat. Dengan bantuan mesin pencari dan kecerdasan buatan, akses pengetahuan ada di ujung jari. Tantangan bagi remaja saat ini bukan lagi cara mendapatkan informasi, melainkan bagaimana memilah kebenaran di tengah banjir informasi yang sering kali menyesatkan.
Pada akhirnya, meski gaya berpakaian vintage 90-an seperti celana baggy dan jaket oversized kembali menjadi tren di kalangan Gen-Z, esensi kehidupannya tetap berbeda. Remaja 90-an hidup dalam dunia yang terasa lebih lambat namun intens secara fisik, sementara remaja sekarang hidup dalam dunia yang serba cepat, praktis, dan terkoneksi secara global. Tidak ada era yang lebih baik atau lebih buruk; keduanya hanyalah cara yang berbeda untuk merayakan masa muda. Menghargai koneksi nyata dari masa lalu sambil memeluk kecanggihan masa depan adalah cara terbaik bagi kita untuk tetap relevan di zaman yang terus berubah ini.
https://www.cakaplah.com/berita/baca/17110/2018/02/14/ini-bedanya-generasi-80an-dan-90an-di-medsos
2 comments:
ohh jadi gitu kehidupan remaja tahun 80-90an
wahh ternyata sangat berbeda ya dengan tahun sekarang
Post a Comment